AKU

Ini tentang aku, iya aku si anak biasa-biasa saja tanpa keunggulan lebih seperti anak lainnya. Yang tumbuh dalam keluarga sederhana dengan pengasuhan yang menurut aku sedikit otoriter. 

Sedikit bercerita tentang aku dimasa sekolah dasar, aku itu anak biasa yang cenderung cuek dan nilai peajaranku juga biasa saja terbukti peringkat paling tinggi yang bisa kuraih dari SD itu juara 3 di kelasku. Meskipun begitu orangtuaku sudah mencekokiku dengan segudang pelajaran yang pastinya dulu aku tidak tau fungsinya apa selain menambah pintar dan berimbas ke nilai pelajaraku menjadi lebih baik. Tapi sejujurnya nilai baik itu bukanlah hal yang penting untukku.

Andai saja orangtuaku menyadari hal terpenting untukku itu adalah waktu bermain, semua koleksi permainan kesayanganku, teman-teman bermainku, dan makanan (jajanan) enak yang aku sukai. 
Aku dulu belajar karena maunya orangtuaku, sama seperti anak-anak pada umumnya yang ada di dalam pikiranku adalah bermain, bermain dan bermain. Tetapi orangtuaku mereka menginginkan aku mendapatkan nilai baik lagi dan lagi, yaa.. selayaknya orangtua pada umumnya. 
Aku sekolah dari jam setengah delapan pagi, pulang, disambung pergi mengaji kemudian pulang, ba’da magrib akupun harus les untuk belajar lagi. Aku lupa pastinya jam berapa aku pulang tapi seperti itulah yang kujalani. Belum lagi les bahasa inggris yang diadakan di hari minggu pagi. Uuh.. sungguh menyita waktu dan kesenanganku.

Ditambah pekerjaan rumah yang diberikan guruku, dan itu sangat menambah beban hidupku. Iya, PR adalah momok yang paling tidak aku sukai selain pelajaran Matematika yang terasa memuakkan dan membuat aku pusing. 
Meskipun pada akhirnya PR itu juga akan aku kerjakan, tapi aku mengerjakannya tanpa perasaan senang. Terkadang juga aku lebih ke asal-asalan klu orangtua atau guru lesku tidak memperhatikan. Bahkan di hari-hari terakhir aku harus UN di sekolah dasar aku juga masih santai-santai saja. Meskipun, yaa aku memang ikut les ini itu, belajar lagi dan lagi. Hal ini membuat aku kesal, aku tidak punya banyak ingatan manis tentang bermain dengan teman-temanku.
     Hari libur (selain minggu) adalah hari paling MERDEKA yang kurasakan. karena aku akan punya banyak waktu sibuk untuk bermain tanpa sekolah, pergi ngaji dan les. Andai setiap hari adalah hari  libur untukku. 
Tapi, Apakah sekarang aku menyesal dengan semua yang kualami ?  Tidak. 
Apakah aku marah dengan kedua orangtuaku ? Tidak. 
Apakah aku mau mengulang masa kecilku dengan segudang kegiatan membosan ? Mungkin. 
Karena otakku di usia 25 tahun ini sudah memberikan alarm positif disetiap apa yang kualami, semua yang kubaca, yang kudengar, yang kulihat, yang kurasakan, telah menjadi pendidikan yang membentuk aku yang sekarang.

Aku bersyukur dan sangat berterimakasih kepada kedua orangtuaku yang sudah mendidik aku sedemikian rupa sehingga aku bisa berada di titik ini. Bukan berarti aku sudah sangat sukses dan sangat bisa dibanggakan, bukaaan... aku hanya merasa telah menjadi orang dewasa yang lebih baik dari apa yang aku imagin dimasa kecilku. 
Membosankan memang, tapi setidaknya aku berada di zona nyaman yang banyak teman-temanku inginkan. Apakah aku akan mendidik anak-anakku kelak seperti kedua orangtuaku mendidikku? Bisa jadi.
Tapi akan aku upayakan dalam bingkai yang lebih indah yang tidak memudarkan lumrahnya masa kecil anak-anakku. Kenapa tidak permainan dibalut dengan pelajaran, bisa saja bukan? 
Aku akan banyak bercerita kepada mereka pk  tentang orang-orang hebat dengan berbagai macam keterbatasan agar mereka mengerti, yang sukses itu tidak melulu yang punya segalanya tidak pula yang selalu juara kelas. Budi pekerti yang luhur, usaha dan doa adalah penentunya. 
Sebab siapalah kita kalau tanpa-NYA.

Komentar

Postingan Populer